Sunday, February 27, 2011

BERKEBUN PEPAYA DI SELA-SELA TANAMAN JATI

Disekitar gunung Ciampea, Bogor, siapa yang tidak kenal Pak Budi Suyanto. Dengan tubuhnya yang agak pendek dan otot yang kekar, kumis yang lebat, kepala agak sedikit botak, penampilannya sangat mudah dikenal. Masyarakat di sekitar gunung ini mengenal Pak Budi sebagai seorang pekerja keras. Siapa menyangka, semak belukar dan alang-alang setinggi 2 meter (sehingga kita tidak akan kelihatan bila berada ditengah-tengahnya), telah disulap menjadi kebun jati dengan diselingi kebun pepaya yang sangat bersih dan rapi!


Pepaya Pak Budi Berbuah Lebat

Bagi Pak Budi, wiraswasta dengan berkebun ini merupakan kegiatan yang sudah lama diimpi-impikan. Selain mendatangkan keuntungan, kegiatan ini secara langsung memberikan manfaat terjaganya kesehatan tubuhnya. Sebagai editor harian nasional, kegiatan berkebun juga memberikan manfaat yaitu pikiran yang selalu jernih dan segar, karena lingkungan dan udara yang bersih dan bebas polusi.

Pak Budi memulai usaha berkebun ini sejak 2,5 tahun yang lalu. Berawal dari tawaran sesorang untuk mengelola lahan kosong di wilayah gunung Ciampea. Tanah kosong ini oleh pemiliknya diminta untuk ditanamai tanaman keras, yaitu tanaman jati dan sengon. Sebagai imbalan atas jerih payahnya, Pak Budi berhak dapatkan bagian atas hasil jual kayu 5 tahun yang akan datang.
Untuk mengelola kebun jati ini Pak Budi merekrut 3 orang pekerja. Dalam bekerja, Pak Budi menerapkan kedisplinan yang sangat tinggi. Tidak segan-segan baginya untuk memarahi anak buahnya, jika pekerjaannya kurang memuaskan.


Umur 6 bulan Sudah Mulai Panen

Setelah beberapa lama, pekerjaan ini dirasakan berat kerena harus menggaji 3 orang pekerja, sementara masih terlalu lama untuk mendapatkan bagian dari hasil kayu. Untuk itu dia meminta kepada pemilik lahan untuk diperbolehkan memanfaatkan lahan disekitar tanaman untuk ditumpang sari dengan pepaya. Permintaan ini ternyata di setujui oleh pemilik lahan. Dengan segera Pak Budi membersihkan lahan disekitar tanaman untuk segera ditanami pepaya.

Lelaki jebolan Institut Pertanian Bogor, Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi ini, tergolong pekerja keras. Dia tidak mau setengah-setengah dalam berkebun. Lihat saja, bagaimana kebunnya bersih dari rumput dan semak belukar. Pernah suatu ketika pada saat kemarau panjang, terjadi kesulitan air, sehingga dia harus memanfaatkan air sungai yang jauhnya 200 meter lebih dari lokasi kebun. Dengan usaha keras dan tidak mengenal waktu, dan dibantu ke tiga karyawannya Pak Budi berhasil mengairi seluruh kebunnya. Alhasil, usahanya tersebut telah mampu membiayai seluruh karyawannya, bahkan berlebih, sehingga dapat memberikan tambahan uang dapur.


Kebun yang Bersih dan Rapi

Mengenal Mikoriza

Dengan ilmu yang diperolehnya pada waktu kuliah serta belajar dari internet serta orang orang disekitarnya, kini Pak Budi sudah merasakan hasil jerih payahnya. Meskipun sudah memberikan tambahan pendapatan, namun kebun pepayanya dirasa belum memberikan hasil yang maksimal. Jika musim kemarau panjang tiba, maka banyak terjadi kerontokan bunga papaya, sehingga mengurangi buah yang dihasilkannya. Sayangnya pada waktu tanam pertama (sekitar 1,5 tahun yang lalu), dia belum menggunakan mikoriza. Meskipun sudah mengenal mikoriza, namun pada waktu itu masih sangat sulit untuk mendapatkannya.


Perbedaan Pertumbuhan

Kira-kira 6 bulan yang kami menawarkan mikoriza pada beliau, dan beliau setuju untuk memakainya. Sungguh diluar dugaan, dengan menggunakan mikoriza, tanaman pepayanya mampu di panen pada umur 6 bulan! Ini berarti 1 bulan lebih cepat dari pada yang tercepat yang pernah ditanamnya. Selain itu buahnya sangat lebat dan lebih tahan dengan penyakit dan kemarau! Kini di saat petani pepaya lain mulai resah dengan munculnya berbagai penyakit, Pak Budi justru mulai merasakan hasil panen dari pepaya yang umurnya baru 6 bulan. Selamat Pak Budi!

No comments:

Post a Comment